Tampilkan postingan dengan label Perang di Asia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang di Asia. Tampilkan semua postingan
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
,
Perang di Eropa
Anda yang gemar membaca komik Asterix dan anda yang pernah menonton film ‘Pirates of The Carribean’, tentu ingat karakter jahat ‘Barbarossa’ bukan? Sejak zaman pertengahan, aneka macam karya fiksi Eropa dan Amerika biasa menggunakan nama Barbarossa untuk menamai karakter seorang penjahat –biasanya seorang bajak laut jahat. Makna negatif Barbarossa terus dipropagandakan hingga zaman sekarang, meski di dalam setting-setting yang berbeda. Tak ada asap jika tak ada api, kebiasaan para penulis fiksi Eropa dan Amerika ini tentu ada sebabnya.
The Barbarosa Brothers
Pada abad ke-15 masehi, di Laut Mediterania ada dua bajak laut bersaudara yang disebut The Barbarossa Brothers. Kedua tokoh ini menjadi legenda dalam dunia ‘per-bajak-laut-an’ dan merupakan tokoh bahari yang sangat ditakuti orang-orang Eropa pada zamannya. Kebiasaannya ialah membajak barang-barang berharga yang diangkut oleh kapal-kapal milik kerajaan-kerajaan Eropa yang melintasi Laut Mediterania. Awak kapal yang dibajak biasanya diberi dua pilihan; mati karena melawan atau hidup dengan menyerah secara sukarela.
Siapakah sebenarnya Barbarossa yang sangat ditakuti oleh orang-orang Eropa selama berabad-abad itu? Mengapa hingga zaman sekarang nama itu terus menghantui benak dan pikiran mereka?
Barbarossa bukanlah sebuah nama. Barbarossa merupakan kata dalam bahasa Latin –gabungan dari kata barber (janggut) dan rossa (merah). Jadi Barbarrossa berarti janggut merah. Barbarossa merupakan julukan yang diberikan oleh para pelaut Eropa kepada kakak-beradik Aruj dan Khairuddin dari Turki. Kedua kakak beradik ini hanyalah pelaut-pelaut biasa yang rutin berlayar di wilayah perairan Yunani dan Turki.
Awal Gerakan Barbarosa
Pada suatu hari, tanpa sebab yang jelas, kapal milik keluarga mereka diserang secara brutal oleh kapal militer Knight of Rhodes. Dalam peristiwa ini, adik bungsu Aruj dan Khairuddin tewas terbunuh. Aruj dan Khairuddin sangat terpukul dengan kematian adik bungsu mereka. Sejak saat itu, mereka melakukan aksi bajak laut kepada semua kapal-kapal militer milik kerajaan-kerajaan Kristen. Aksi-aksi mereka sangat menggemparkan dan membuat mereka ditakuti militer Kristen. Aruj dan Khairuddin pun kemudian dikenal sebagai The Barbarossa Brothers Pirates karena keduanya berjanggut merah.
Kaum Eropa menyebut Barbarossa sebagai bajak laut, meskipun tidak ada bendera hitam dan tengkorak yang menjadi simbol bajak laut. Bendera yang dipasang Aruj dan Khairuddin di kapal mereka adalah sebuah bendera berwarna hijau berisi kaligrafi doa Nashrun minallaah wa fathun qariib wa basysyiril mu’miniin, ya Muhammad, empat nama khulafaur rasyidin, pedang Zulfikar dan bintang segi enam Yahudi (Bintang David). Awak kapal yang dipimpin kedua bersaudara ini terdiri atas orang-orang Islam dari bangsa Moor, Turki, dan Spanyol, serta beberapa orang Yahudi.
Pada tahun 1492 M, Andalusia yang sejak tahun 756 M dikuasai oleh Daulah Khilafah Islamiyah, jatuh ke tangan Pasukan Salib yang terdiri atas pasukan gabungan Aragon dan Spanyol. Dalam peristiwa penaklukan Andalusia ini, jutaan orang Islam dan Yahudi tewas dibantai pasukan yang dipimpin Raja Ferdinand II dari Aragon.
Perjuangan Jihad Barbarosa
Peristiwa itu mengubah haluan misi dendam Aruj dan Khairuddin menjadi misi Jihad Islam. Bahu-membahu bersama sekelompok milisi bangsa Moor, mereka kemudian menyelamatkan puluhan ribu Umat Islam dari Spanyol ke Afrika utara (Maroko, Tunisia dan Aljazair). Kemudian mereka membangun basis pertahanan laut di Aljazair untuk menghadang gelombang serangan Pasukan Salib dari jalur Afrika Utara menuju Tanah Suci Palestina.
Khalifah Islam saat itu, Sulaiman I, mendengar cerita-cerita heroik Barbarossa bersaudara. Sulaiman I sangat kagum pada heroisme mereka. Karena prestasi mereka di lautan, akhirnya Sulaiman I mengangkat Aruj dan Khairuddin sebagai Kapudan Pasha (Panglima Angkatan Laut) Khilafah Islamiyyah untuk membenahi Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah yang amburadul.
Adu Domba Pihak Spanyol
Pada tahun 1518 Spanyol berhasil menghasut Amir kota Tlemcen (Tilmisan) untuk melancarkan pemberontakan kepada kepemimpinan Aruj. Aruj kemudian menyerahkan pemerintahan Aljazair kepada Khairuddin untuk sementara. Lalu ia memimpin pasukan untuk berangkat ke Tlemcen. Hati Aruj sangat pilu karena ia malah berperang dengan saudara sendiri sesama Muslim. Akibatnya ia kurang berkonsentrasi dan pasukannya kocar-kacir. Aruj sempat lolos, namun banyak pasukannya yang tertangkap. Karena hubungan emosionalnya dengan anak buahnya, Aruj kembali ke Tlemcen untuk bertempur dan ia gugur dalam pertempuran tersebut.
Dengan gugurnya Aruj, kepemimpinan Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah beralih ke tangan Khairuddin. Spanyol mengira bahwa era kejayaan Barbarossa di Laut Tengah telah berakhir. Lalu, dengan percaya dirinya, Spanyol mengirim 20.000 tentaranya ke Aljazair. Pertempuran hebat pun terjadi, namun Khairuddin berhasil menghajar pasukan laut tersebut.
Sejarah dan Kehebatan Pasukan Janissary
Guna meminimalisir ancaman dari negeri sekitar Aljazair, selain ancaman utama Spanyol, Khairuddin kemudian meminta kepada Khalifah Sulaiman I agar kekuasaan Amir Tunisia dan Tlemcen dialihkan kepadanya. Sulaiman I pun setuju. Pada 1519, Khalifah mengangkat Khairuddin sebagai beylerbey (Bakhlair Baik) atau wakil Khalifah untuk wilayah Aljazair dan sekitarnya. Kemudian Khairuddin juga ditugasi memimpin pasukan-pasukan elit Daulah Khilafah Islamiyah, Pasukan Janissary.
Dalam masa kepemimpinan Khairuddin, Pasukan Janissary berhasil melakukan banyak penyelamatan Umat Islam di Andalusia. Tercatat mereka melakukan 7 kali pelayaran dengan 36 buah kapal untuk mengangkut Umat Islam Spanyol yang diburu bagai hewan oleh Ferdinand II dan Pasukan Salibnya.
Pertengahan dekade 1520-an, Pasukan Darat Janissary yang dipimpin langsung Khalifah Sulaiman I berhasil memenangkan semua pertempuran darat. Pada saat bersamaan, Pasukan Laut Janissary di bawah pimpinan Khairuddin juga berhasil mengontrol lalu lintas pelayaran di Laut Tengah sepenuhnya. Kondisi ini membuat Pasukan Salib Kristen Eropa menjadi pusing tujuh keliling.
Awal Mula Minuman Capucchino
Dalam suasana putus asa, pada tahun 1529 di pulau Penon, Spanyol menembakkan meriam ke menara masjid saat Adzan sedang berkumandang. Maka terjadilah peperangan hebat di Penon dan setelah 20 hari pulau tersebut berhasil dikuasai kembali oleh Khairuddin. Sementara di daratan, Sulaiman I membombardir Wina (Ibukota Austria) dengan dua kali serangan namun keduanya gagal. Pasukan Islam yang mundur dari pertempuran meninggalkan beberapa karung kopi yang kemudian mengubah aturan Paus Roma yang sebelumnya mengharamkan minuman yang biasa diminum kaum muslim itu. Kemudian mereka menyebut minuman itu sebagai dengan nama cappuccino.
Pada tahun 1535 Pasukan Salib Gabungan Spanyol dan Genoa di bawah pimpinan Charles V dan Andrea Doria (Knight of Malta) menyerang Tunisia dengan kekuatan 25.000 orang pasukan dan 500 kapal. Pertempuran pun berjalan tidak imbang hingga Tunisia pun jatuh ke tangan Spanyol. Pada tahun-tahun selanjutnya, Khairuddin Sang Barbarossa mengalami banyak kekalahan. Namun ia berhasil menduduki kepulauan Beleares dan merampas kapal-kapal Portugis dan Spanyol di selat Gibraltar.
Akhir Gemilang Barbarosa Sebelum Tutup Usia
Tahun 1538, Pasukan Salib Gabungan Italia-Spanyol menyerang Preveza yang saat itu merupakan pelabuhan penting di Laut Tengah. Andrea Doria memimpin 40 kapal dan Barbarossa hanya memimpin 20 kapal. Namun dengan kecerdikannya, Barbarossa memecah armadanya ke tiga arah dan menjebak Pasukan Andrea Doria di tengah untuk kemudian membombardir armada Andrea Doria habis-habisan. Andrea Doria dan armada lautnya pun lari dari pertempuran. Walau begitu, Khairuddin tak mengejarnya karena ia tak ingin berperang di laut lepas, mengingat kapal-kapal armada laut Spanyol mempunyai peralatan yang lebih canggih. Apalagi ia hanya memimpin 20 kapal.
Tiga tahun kemudian, Pasukan Salib Gabungan Spanyol-Genoa kembali menyerang Aljazair dengan kekuatan 200 kapal. Mereka sengaja melancarkan serangan di luar musim berlayar, untuk menghindari pertemuan dengan Pasukan Barbarossa. Rakyat Aljazair di bawah komando Hasan Agha berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan Aljazair. Charles V dan Andrea Doria yang memimpin serangan tak mengira bahwa pertahanan dan strategi perang Hasan Agha sangat matang, sehingga armadanya pun kacau-balau. Ketika itu pula tiba-tiba badai laut dahsyat menghantam Laut Mediterania. Andrea Doria dan Charles V berhasil selamat, dan kembali ke negerinya dengan kekalahan pahit.
Tahun 1565, dalam usia senja, Khairuddin Barbarossa memimpin pasukan untuk merebut Malta dari tangan Knight of St. John. Namun dalam pertempuran itu, Khairuddin gugur. Kemudian Khairuddin dimakamkan di Istanbul. Di dekat kuburannya didirikan masjid dan madrasah untuk mengenangnya. Hingga kini makam tersebut masih terawat untuk menjadi bukti kepahlawanan Khairuddin alias Barbarossa yang namanya masih ditakuti bangsa Eropa hingga zaman sekarang.
Sumber: http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=30615
The Barbarosa Brothers
Pada abad ke-15 masehi, di Laut Mediterania ada dua bajak laut bersaudara yang disebut The Barbarossa Brothers. Kedua tokoh ini menjadi legenda dalam dunia ‘per-bajak-laut-an’ dan merupakan tokoh bahari yang sangat ditakuti orang-orang Eropa pada zamannya. Kebiasaannya ialah membajak barang-barang berharga yang diangkut oleh kapal-kapal milik kerajaan-kerajaan Eropa yang melintasi Laut Mediterania. Awak kapal yang dibajak biasanya diberi dua pilihan; mati karena melawan atau hidup dengan menyerah secara sukarela.
Siapakah sebenarnya Barbarossa yang sangat ditakuti oleh orang-orang Eropa selama berabad-abad itu? Mengapa hingga zaman sekarang nama itu terus menghantui benak dan pikiran mereka?
Barbarossa bukanlah sebuah nama. Barbarossa merupakan kata dalam bahasa Latin –gabungan dari kata barber (janggut) dan rossa (merah). Jadi Barbarrossa berarti janggut merah. Barbarossa merupakan julukan yang diberikan oleh para pelaut Eropa kepada kakak-beradik Aruj dan Khairuddin dari Turki. Kedua kakak beradik ini hanyalah pelaut-pelaut biasa yang rutin berlayar di wilayah perairan Yunani dan Turki.
Awal Gerakan Barbarosa
Pada suatu hari, tanpa sebab yang jelas, kapal milik keluarga mereka diserang secara brutal oleh kapal militer Knight of Rhodes. Dalam peristiwa ini, adik bungsu Aruj dan Khairuddin tewas terbunuh. Aruj dan Khairuddin sangat terpukul dengan kematian adik bungsu mereka. Sejak saat itu, mereka melakukan aksi bajak laut kepada semua kapal-kapal militer milik kerajaan-kerajaan Kristen. Aksi-aksi mereka sangat menggemparkan dan membuat mereka ditakuti militer Kristen. Aruj dan Khairuddin pun kemudian dikenal sebagai The Barbarossa Brothers Pirates karena keduanya berjanggut merah.
Kaum Eropa menyebut Barbarossa sebagai bajak laut, meskipun tidak ada bendera hitam dan tengkorak yang menjadi simbol bajak laut. Bendera yang dipasang Aruj dan Khairuddin di kapal mereka adalah sebuah bendera berwarna hijau berisi kaligrafi doa Nashrun minallaah wa fathun qariib wa basysyiril mu’miniin, ya Muhammad, empat nama khulafaur rasyidin, pedang Zulfikar dan bintang segi enam Yahudi (Bintang David). Awak kapal yang dipimpin kedua bersaudara ini terdiri atas orang-orang Islam dari bangsa Moor, Turki, dan Spanyol, serta beberapa orang Yahudi.
Pada tahun 1492 M, Andalusia yang sejak tahun 756 M dikuasai oleh Daulah Khilafah Islamiyah, jatuh ke tangan Pasukan Salib yang terdiri atas pasukan gabungan Aragon dan Spanyol. Dalam peristiwa penaklukan Andalusia ini, jutaan orang Islam dan Yahudi tewas dibantai pasukan yang dipimpin Raja Ferdinand II dari Aragon.
Perjuangan Jihad Barbarosa
Peristiwa itu mengubah haluan misi dendam Aruj dan Khairuddin menjadi misi Jihad Islam. Bahu-membahu bersama sekelompok milisi bangsa Moor, mereka kemudian menyelamatkan puluhan ribu Umat Islam dari Spanyol ke Afrika utara (Maroko, Tunisia dan Aljazair). Kemudian mereka membangun basis pertahanan laut di Aljazair untuk menghadang gelombang serangan Pasukan Salib dari jalur Afrika Utara menuju Tanah Suci Palestina.
Khalifah Islam saat itu, Sulaiman I, mendengar cerita-cerita heroik Barbarossa bersaudara. Sulaiman I sangat kagum pada heroisme mereka. Karena prestasi mereka di lautan, akhirnya Sulaiman I mengangkat Aruj dan Khairuddin sebagai Kapudan Pasha (Panglima Angkatan Laut) Khilafah Islamiyyah untuk membenahi Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah yang amburadul.
Adu Domba Pihak Spanyol
Pada tahun 1518 Spanyol berhasil menghasut Amir kota Tlemcen (Tilmisan) untuk melancarkan pemberontakan kepada kepemimpinan Aruj. Aruj kemudian menyerahkan pemerintahan Aljazair kepada Khairuddin untuk sementara. Lalu ia memimpin pasukan untuk berangkat ke Tlemcen. Hati Aruj sangat pilu karena ia malah berperang dengan saudara sendiri sesama Muslim. Akibatnya ia kurang berkonsentrasi dan pasukannya kocar-kacir. Aruj sempat lolos, namun banyak pasukannya yang tertangkap. Karena hubungan emosionalnya dengan anak buahnya, Aruj kembali ke Tlemcen untuk bertempur dan ia gugur dalam pertempuran tersebut.
Dengan gugurnya Aruj, kepemimpinan Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah beralih ke tangan Khairuddin. Spanyol mengira bahwa era kejayaan Barbarossa di Laut Tengah telah berakhir. Lalu, dengan percaya dirinya, Spanyol mengirim 20.000 tentaranya ke Aljazair. Pertempuran hebat pun terjadi, namun Khairuddin berhasil menghajar pasukan laut tersebut.
Sejarah dan Kehebatan Pasukan Janissary
Guna meminimalisir ancaman dari negeri sekitar Aljazair, selain ancaman utama Spanyol, Khairuddin kemudian meminta kepada Khalifah Sulaiman I agar kekuasaan Amir Tunisia dan Tlemcen dialihkan kepadanya. Sulaiman I pun setuju. Pada 1519, Khalifah mengangkat Khairuddin sebagai beylerbey (Bakhlair Baik) atau wakil Khalifah untuk wilayah Aljazair dan sekitarnya. Kemudian Khairuddin juga ditugasi memimpin pasukan-pasukan elit Daulah Khilafah Islamiyah, Pasukan Janissary.
Dalam masa kepemimpinan Khairuddin, Pasukan Janissary berhasil melakukan banyak penyelamatan Umat Islam di Andalusia. Tercatat mereka melakukan 7 kali pelayaran dengan 36 buah kapal untuk mengangkut Umat Islam Spanyol yang diburu bagai hewan oleh Ferdinand II dan Pasukan Salibnya.
Pertengahan dekade 1520-an, Pasukan Darat Janissary yang dipimpin langsung Khalifah Sulaiman I berhasil memenangkan semua pertempuran darat. Pada saat bersamaan, Pasukan Laut Janissary di bawah pimpinan Khairuddin juga berhasil mengontrol lalu lintas pelayaran di Laut Tengah sepenuhnya. Kondisi ini membuat Pasukan Salib Kristen Eropa menjadi pusing tujuh keliling.
Awal Mula Minuman Capucchino
Dalam suasana putus asa, pada tahun 1529 di pulau Penon, Spanyol menembakkan meriam ke menara masjid saat Adzan sedang berkumandang. Maka terjadilah peperangan hebat di Penon dan setelah 20 hari pulau tersebut berhasil dikuasai kembali oleh Khairuddin. Sementara di daratan, Sulaiman I membombardir Wina (Ibukota Austria) dengan dua kali serangan namun keduanya gagal. Pasukan Islam yang mundur dari pertempuran meninggalkan beberapa karung kopi yang kemudian mengubah aturan Paus Roma yang sebelumnya mengharamkan minuman yang biasa diminum kaum muslim itu. Kemudian mereka menyebut minuman itu sebagai dengan nama cappuccino.
Pada tahun 1535 Pasukan Salib Gabungan Spanyol dan Genoa di bawah pimpinan Charles V dan Andrea Doria (Knight of Malta) menyerang Tunisia dengan kekuatan 25.000 orang pasukan dan 500 kapal. Pertempuran pun berjalan tidak imbang hingga Tunisia pun jatuh ke tangan Spanyol. Pada tahun-tahun selanjutnya, Khairuddin Sang Barbarossa mengalami banyak kekalahan. Namun ia berhasil menduduki kepulauan Beleares dan merampas kapal-kapal Portugis dan Spanyol di selat Gibraltar.
Akhir Gemilang Barbarosa Sebelum Tutup Usia
Tahun 1538, Pasukan Salib Gabungan Italia-Spanyol menyerang Preveza yang saat itu merupakan pelabuhan penting di Laut Tengah. Andrea Doria memimpin 40 kapal dan Barbarossa hanya memimpin 20 kapal. Namun dengan kecerdikannya, Barbarossa memecah armadanya ke tiga arah dan menjebak Pasukan Andrea Doria di tengah untuk kemudian membombardir armada Andrea Doria habis-habisan. Andrea Doria dan armada lautnya pun lari dari pertempuran. Walau begitu, Khairuddin tak mengejarnya karena ia tak ingin berperang di laut lepas, mengingat kapal-kapal armada laut Spanyol mempunyai peralatan yang lebih canggih. Apalagi ia hanya memimpin 20 kapal.
Tiga tahun kemudian, Pasukan Salib Gabungan Spanyol-Genoa kembali menyerang Aljazair dengan kekuatan 200 kapal. Mereka sengaja melancarkan serangan di luar musim berlayar, untuk menghindari pertemuan dengan Pasukan Barbarossa. Rakyat Aljazair di bawah komando Hasan Agha berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan Aljazair. Charles V dan Andrea Doria yang memimpin serangan tak mengira bahwa pertahanan dan strategi perang Hasan Agha sangat matang, sehingga armadanya pun kacau-balau. Ketika itu pula tiba-tiba badai laut dahsyat menghantam Laut Mediterania. Andrea Doria dan Charles V berhasil selamat, dan kembali ke negerinya dengan kekalahan pahit.
Tahun 1565, dalam usia senja, Khairuddin Barbarossa memimpin pasukan untuk merebut Malta dari tangan Knight of St. John. Namun dalam pertempuran itu, Khairuddin gugur. Kemudian Khairuddin dimakamkan di Istanbul. Di dekat kuburannya didirikan masjid dan madrasah untuk mengenangnya. Hingga kini makam tersebut masih terawat untuk menjadi bukti kepahlawanan Khairuddin alias Barbarossa yang namanya masih ditakuti bangsa Eropa hingga zaman sekarang.
Sumber: http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=30615
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Partai-partai politik Pakistan sekali lagi memperingatkan rencana pemerintah untuk membuka kembali rute pasokan NATO, dengan mengatakan tindakan itu hanya akan serangan teror semakin meningkat, laporan Press TV.
Menurut pimpinan Liga Muslim Awami (AML) Syaikh Rasyid, serangan teror "akan dilanjutkan jika jalur suplai NATO dibuka kembali," dan juga bisa mengancam Punjab.
Para pemimpin Tehrik-e-Insaf Pakistan (PTI), serta partai politik lainnya menyuarakan penentangan mereka, mengatakan langka tersebut hanya akan menambah kerusuhan di Pakistan. Laporan ini datang pada saat pemerintah Pakistan sedang mempertimbangkan untuk membuka kembali rute pasokan NATO yang sebelumnya diblokir di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat.
Jamat-e-Islami serta aliansi partai oposisi lainnya, Dewan Difa-e-Pakistan, juga telah berulang kali memperingatkan Islamabad untuk tidak melakukan langkah tersebut.
November lalu, Islamabad menutup rute pasokan setelah serangan udara AS menewaskan sedikitnya 24 tentara Pakistan di dekat perbatasan Afghanistan. (fq/prtv)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Menurut pimpinan Liga Muslim Awami (AML) Syaikh Rasyid, serangan teror "akan dilanjutkan jika jalur suplai NATO dibuka kembali," dan juga bisa mengancam Punjab.
Para pemimpin Tehrik-e-Insaf Pakistan (PTI), serta partai politik lainnya menyuarakan penentangan mereka, mengatakan langka tersebut hanya akan menambah kerusuhan di Pakistan. Laporan ini datang pada saat pemerintah Pakistan sedang mempertimbangkan untuk membuka kembali rute pasokan NATO yang sebelumnya diblokir di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat.
Jamat-e-Islami serta aliansi partai oposisi lainnya, Dewan Difa-e-Pakistan, juga telah berulang kali memperingatkan Islamabad untuk tidak melakukan langkah tersebut.
November lalu, Islamabad menutup rute pasokan setelah serangan udara AS menewaskan sedikitnya 24 tentara Pakistan di dekat perbatasan Afghanistan. (fq/prtv)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Perang di Asia
Utusan PBB dan Liga Arab untuk Suriah Kofi Annan menyerukan diakhirinya kekacauan selama satu tahun di negara itu "tanpa prasyarat."
"Saya percaya seharusnya tidak ada prasyarat untuk menghentikan aksi kekerasan," kata Annan dalam konferensi pers, Selasa kemarin (10/4). Mantan Sekjen PBB itu membuat pernyataan setelah mengunjungi kamp pengungsi di perbatasan Suriah di provinsi Turki selatan Hatay.
"Saya sekali lagi menyerukan pemerintah Suriah dan oposisi Suriah untuk menghentikan kekerasan sesuai (dengan) rencana," kata Annan, mengacu pada rencana enam poin yang ia usulkan ke Damaskus pada bulan Maret lalu.
Pada tanggal 5 April juru bicara pemerintah Suriah Annan Ahmad Fawzi mengatakan, "Apa yang kami harapkan pada 10 April adalah bahwa pemerintah Suriah akan menyelesaikan penarikannya dari pusat penduduk."
Penarikan ini merupakan bagian dari rencana enam poin. Menlu Suriah Walid al-Muallem juga mengatakan pada hari Selasa kemarin, "Kami telah menarik pasukan dan unit tentara dari beberapa provinsi Suriah." Muallem membuat pernyataan dalam konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Moskow. (fq/prtv)
Sumber: http://www.eramuslim.com
"Saya percaya seharusnya tidak ada prasyarat untuk menghentikan aksi kekerasan," kata Annan dalam konferensi pers, Selasa kemarin (10/4). Mantan Sekjen PBB itu membuat pernyataan setelah mengunjungi kamp pengungsi di perbatasan Suriah di provinsi Turki selatan Hatay.
"Saya sekali lagi menyerukan pemerintah Suriah dan oposisi Suriah untuk menghentikan kekerasan sesuai (dengan) rencana," kata Annan, mengacu pada rencana enam poin yang ia usulkan ke Damaskus pada bulan Maret lalu.
Pada tanggal 5 April juru bicara pemerintah Suriah Annan Ahmad Fawzi mengatakan, "Apa yang kami harapkan pada 10 April adalah bahwa pemerintah Suriah akan menyelesaikan penarikannya dari pusat penduduk."
Penarikan ini merupakan bagian dari rencana enam poin. Menlu Suriah Walid al-Muallem juga mengatakan pada hari Selasa kemarin, "Kami telah menarik pasukan dan unit tentara dari beberapa provinsi Suriah." Muallem membuat pernyataan dalam konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Moskow. (fq/prtv)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Perang di Asia
Ratusan mahasiswa Pakistan mengadakan demonstrasi menentang AS di Karachi, memprotes sikap Washington yang menjanjikan hadiah untuk pimpinan sebuah kelompok Islam Pakistan, Press TV melaporkan.
Para mahasiswa turun ke jalan pada hari Selasa kemarin (10/4) mengutuk tindakan AS terhadap pendiri dan pimpinan Jamaat-ud-Dawa, Hafiz Muhammad Said. Dalam aksi para pengunjuk rasa mahasiswa membakar bendera AS dan menuntut permintaan maaf dari Washington karena menghina warga negara Pakistan.
Mereka percaya bahwa Washington sedang mencoba untuk membalas terhadap Said untuk oposisi publiknya menentang serangan pesawat tak berawak AS di wilayah Pakistan serta rencana pembukaan kembali rute Pakistan untuk pasokan NATO menuju ke Afghanistan.
Pada tanggal 2 April lalu, pemerintah AS mengumumkan bahwa mereka akan menawarkan hadiah sebanyak 10 juta dolar untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Said, yang telah dituduh mendalangi serangan Mumbai November 2008.
Serangan menyebabkan sekitar 160 orang tewas. Islamabad mengatakan Said telah dibersihkan oleh pengadilan Pakistan akan keterlibatannya dalam serangan itu.(fq/prtv)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Ratusan mahasiswa Pakistan mengadakan demonstrasi menentang AS di Karachi, memprotes sikap Washington yang menjanjikan hadiah untuk pimpinan sebuah kelompok Islam Pakistan, Press TV melaporkan.
Para mahasiswa turun ke jalan pada hari Selasa kemarin (10/4) mengutuk tindakan AS terhadap pendiri dan pimpinan Jamaat-ud-Dawa, Hafiz Muhammad Said. Dalam aksi para pengunjuk rasa mahasiswa membakar bendera AS dan menuntut permintaan maaf dari Washington karena menghina warga negara Pakistan.
Mereka percaya bahwa Washington sedang mencoba untuk membalas terhadap Said untuk oposisi publiknya menentang serangan pesawat tak berawak AS di wilayah Pakistan serta rencana pembukaan kembali rute Pakistan untuk pasokan NATO menuju ke Afghanistan.
Pada tanggal 2 April lalu, pemerintah AS mengumumkan bahwa mereka akan menawarkan hadiah sebanyak 10 juta dolar untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Said, yang telah dituduh mendalangi serangan Mumbai November 2008.
Serangan menyebabkan sekitar 160 orang tewas. Islamabad mengatakan Said telah dibersihkan oleh pengadilan Pakistan akan keterlibatannya dalam serangan itu.(fq/prtv)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
,
Perang di Eropa
MESKI KEKEJAMAN pemerintahan syi’ah di Iran dan di Suriah sudah sedemikian nyata, para misionaris syi’ah di Indonesia masih saja berusaha meyakinkan umat Islam Indonesia, bahwa syi’ah itu agama damai, syi’ah itu salah satu madzhab dalam Islam yang diakui dunia internasional, bahwa syi’ah itu Islam juga.
Terhadap kekejaman syi’ah di Suriah, kalangan syi’ah cenderung membela diri, bahwa yang dibunuhi itu adalah rakyat yang memberontak kepada pemerintah, bahwa Bashar Assad itu bukan penganut syi’ah, dan sebagainya. Selain itu, para misionaris syi’ah juga cenderung mencari “pihak ketiga” yang bisa dijadikan musuh bersama yaitu paham wahabi. Menurut para misionaris syi’ah, paham wahabi bahkan memposisikan syi’ah dan sunni (ahlus sunnah) sama-sama sesat. Mereka juga mengatakan, sebagaimana pernah dikatakan Zen Al-Hady narasumber Radio Silaturahim (Rasil), Kerajaan Saudi yang berpaham Wahabi itu bahkan memposisikan ormas NU sebagai berpaham sesat.
Menurut misionaris syi’ah, musuh umat Islam bukanlah syi’ah karena syi’ah bagian dari Islam. Tetapi, selain paham wahabi musuh Islam adalah: mereka yang membuat karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw; penulis buku ayat-ayat setan dan yang melindungi penerbitan buku itu; mereka yang menganggap Islam sebagai agama kekerasan dan barbar; mereka yang menguasai Masjidil Aqsha, kiblat pertama kaum muslimin dan menjadikannya sebagai ibu kotanya. Begitulah propaganda misionaris syi’ah, yang antara lain bisa ditemukan pada sebuah surat terbuka berjudul “Surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi kepada ulama Wahabi” yang bisa ditemui di situs penganut syi’ah Alwi Husein (alwihusein.multiply.com) Zen Al-Hady salah satu narasumber Radio Silaturahim (Rasil) juga kerap mengutip materi propaganda khas syi’ah tadi dalam berbagai kesempatan. Tapi alhamdulillah umat Islam tidak begitu mudah percaya dengan propaganda tersebut.
Musuh-musuh Islam seperti disebutkan oleh Ayatullah Makarim Syirazi melalui surat terbukanya di atas, memang benar. Namun syi’ah pun bagian dari musuh Islam. Memerangi syi’ah bukanlah memerangi sesama muslim, karena syi’ah apapun sektenya, mereka kini sudah memerangi Islam. Bahkan syi’ah lebih dekat diposisikan dengan pihak harby. Akhir-akhir ini para misionaris syi’ah menyebarluaskan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi, boleh jadi karena mereka panik dan tidak punya cara lain untuk menutupi kekejaman rezim syi’ah di Suriah. Pada surat terbuka itu antara lain dituliskan, seolah-olah pernah ada pertemuan aneh dan langka di sebagian negara-negara Islam, yang berlangsung pada tanggal 16 Dzul Qa’dah 1427 H.
Konon, sejumlah 38 ulama dan dosen wahabi dari Universitas Ummul Qura dan Universitas Malik Su’ud, serta ulama dan dosen dari sebagian kecil wilayah Arab Saudi lainnya, menandatangani sebuah deklarasi yang berisi fatwa untuk membunuhi orang-orang syi’ah di Irak, bahkan orang-orang syi’ah di seluruh dunia. Alasannya, kata Ayatullah Makarim Syirazi, para ulama dan dosen wahabi itu menuduh bahwa orang-orang syi’ah itu rafidhi safawi yang merupakan sekutu Amerika dan kerap membunuhi orang Islam. Benarkah adanya deklarasi berisi fatwa membunuhi orang-orang syi’ah itu adalah sesuatu yang bisa dipertangung jawabkan? Yang pasti saat ini justru umat Islam-lah yang jadi korban pembantaian rezim syi’ah di Suriah. Juga, di Iran. Kalau toh deklarasi itu memang ada, tentu saja tidak lantas menganulir bahwa syi’ah itu secara akidah memang bertentangan dengan Islam.
Jangan membodohi umat Islam. Dalam salah satu alineanya, surat terbuka yang konon berasal dari Ayatullah Makarim Syirazi mengatakan: “Apakah Nabi Muhammad saw tidak pernah memberikan aturan dalam berperang bahwa ketika berperang melawan kaum musyrikin, anak-anak dan wanita jangan dibunuh. Bagaimana mungkin kelompok dari kalian melupakan aturan Islam yang sangat manusiawi ini, ketika menghadapi sekelompok dari kaum muslimin? Dengan teror, kalian membantai semuanya.” Kecaman Ayatullah Makarim Syirazi di atas, sepantasnya ditujukan kepada rezim syi’ah di Suriah, dan sama sekali tidak cocok ditujukan kepada umat Islam Indonesia, apalagi umat Islam di Suriah yang dizalimi dan dianiayaya rezim syi’ah nushairiyah di negerinya sendiri. Sesuatu yang tidak cocok itu ternyata oleh para misionaris syi’ah dijadikan materi propaganda, setidaknya untuk mengalihkan perhatian umat Islam atas kekejaman rezim syi’ah di Suriah yang berlangsung cukup lama.
Mungkin mereka bermaksud memberikan kesan bahwa orang-orang syi’ah itu juga dizalimi oleh paham wahabi sebagaimana ditulis dalam surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi di atas. Gaya seperti itu persis gaya Yahudi dengan menciptakan public opinion yang terkenal dengan sebutan holocaust (pembasmian). Melalui public opinion itu bangsa Yahudi ingin memposisikan dirinya sebagai bangsa yang teraniaya akibat praktik genosida (pemusnahan suatu bangsa) yang dilakukan Nazi Jerman dengan tokoh utamanya Hitler. Genosida terhadap bangsa Yahudi yang berlangsung antara tahun 1933-1945 itu, konon menyebabkan sejumlah 6 juta orang Yahudi menjadi korban pembunuhan rezim Hitler. Belakangan, holocaust disangkal oleh sejumlah ilmuwan seperti Roger Garaudy, Professor Robert Maurisson, Ernst Zundel, David Irving, dan sebagainya. Akibatnya, mereka harus mendekam di penjara.
Bahkan, korban kekejaman Hitler yang selama ini dipatok pada angka 6 juta, sebenarnya jauh lebih kecil, yaitu di bawah angka satu juta jiwa. Angka itu (di bawah satu juta jiwa) bagi kita umat Islam yang menjunjung tinggi syari’at Allah dan kemanusiaan, tetap masih sangat banyak. Namun yang jauh lebih banyak lagi adalah kebohongan Yahudi yang membentuk opini bahwa bangsa Yahudi korban kekejaman Hitler berjumlah 6 juta jiwa. Sehingga, dengan alasan itu mereka merasa ‘berhak’ membunuhi bangsa Palestina, dan orang-orang Islam pada umumnya di seluruh permukaan bumi. Padahal, ketika Yahudi dikejar-kejar rezim Hitler, mereka justru berlindung di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Selain holocaust, gaya berkelit ala Yahudi juga bisa ditemukan pada wacana benturan antarperadaban yang dipopulerkan oleh Samuel Phillips Huntington (kelahiran New York City, 18 April 1927) setidaknya sejak 1998, satu dekade sebelum ia akhirnya meninggal dunia pada 24 Desember 2008. Wacana itu ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia). Intinya, setelah komunisme yang menjadi musuh utama Amerika Serikat dan negara-negara Barat pada umumnya, tumbang, maka musuh berikutnya adalah peradaban Islam. Menurut Huntington, di antara berbagai peradaban besar yang tetap tegak hingga kini adalah peradaban Islam. Sebagai peradaban yang terus tegak, Islam dinilai menjadi peradaban yang paling berpotensi mengancam peradaban Barat.
Wacana benturan antarperadaban yang diusung Huntington itu bisa merupakan fakta sahih, atau analisa semata, atau justru merupakan sebuah skenario politik Barat (Amerika dan sekutunya), untuk mempunyai landasan bertindak memerangi Islam. Sebagaimana sudah diketahui umum, setiap kebijakan politik Amerika Serikat pastilah dilahirkan oleh kepentingan politik Yahudi ‘perantauan’ yang berada di Amerika Serikat dan di belahan negara Barat lainnya. Apalagi, kemudian wacana benturan antarperadaban Huntington itu tak berapa lama mendapat pembenaran melalui kasus WTC 911 yang terjadi pada 11 September 2001, yang konon dilakukan oleh organisasi teroris Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden, yang merupakan salah satu anak keluarga bin Laden yang selama ini menjadi mitra bisnis AS. Osama dan Al-Qaeda kemudian menjadi icon peradaban Islam yang menggoyang peradaban Barat. Al-Qaeda regional dan lokal pun muncul, termasuk di Indonesia.
Sejumlah tokoh atau oknum JI (Jama’ah Islamiyah) yang keberadaannya disangkal oleh Abu Bakar Ba’asyir, pun turut melaksanakan ‘serangan’ terhadap peradaban Barat, antara lain berupa Bom Bali I, Bom Bali II, Bom JW Marriott dan sebagainya. Maka, sempurnalah alasan yang diperlukan untuk menjalakankan skenario menggempur peradaban Islam melalui perang melawan terorisme. Kemudian dalam rangka memerangi peradaban Islam yang dikesankan keras ala Al-Qaeda dan JI, muncullah JIL (Jaringan Islam Liberal) dan sejumlah tokoh anak wayang seperti Ulil, Musdah, Maarif, dan sebagainya. Belakangan muncul pula program deradikalisasi yang menguntungkan Said Agil Siradj. Fenomena inilah yang dimanfaatkan oleh kalangan syi’ah untuk dijadikan momentum menjual paham sesat syi’ah laknatullah. Misionaris syi’ah seperti Zen Al-Hadi narasumber Radio Silaturahim (Rasil) dan Jalaluddin Rakhmat dari IJABI, selalu menjadikan tindakan oknum JI sebagai contoh paham wahabi yang sebaiknya dijadikan musuh bersama umat Islam dan syi’ah. Daripada berpaham wahabi yang keras mendingan syi’ah. Daripada atheis mendingan syi’ah. Pernyataan itu seolah-olah benar padahal keliru.
Selain menjadikan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi sebagai materi propaganda membela syi’ah, para misionaris paham sesat syi’ah laknatullah ini juga menjadikan sebuah foto editan untuk mengalihkan perhatian dan emosi umat Islam atas kekejaman rezim syi’ah di Suriah. Pada foto tersebut terlihat George Bush (Presiden AS sebelum Obama) sedang tempel pipi dengan Raja Arab Saudi. Selama ini George Bush dituding melakukan pembantaian terhadap satu juta muslim di Iraq, dan Raja Abdullah dari Saudi dituding menjadi sekutu George Bush dalam upaya pembunuhan itu. Peristiwa itu kalau benar terjadi, tidak akan pernah menganulir kesesatan syi’ah yang secara akidah bertentangan dengan umat Islam, tidak akan mengalihkan perhatian umat Islam terhadap kekejaman rezim syi’ah terhadap umat Islam di Suriah dan di Iran.
Cara-cara di atas, yaitu menjadikan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi dan foto editan sebagai materi kampanye syi’ah mengalihkan perhatian dan emosi umat Islam terhadap kekejaman rezim syi’ah di Suriah, adalah perbuatan dungu bin tolol. Karena kesesatan syi’ah secara akidah, tidak bisa dianulir oleh praktik politik Saudi Arabia, dan sebagainya. Saudi mau runtang-runtung dengan AS dan sebagainya, itu urusan politik mereka. Dalam urusan akidah, umat Islam tetap konsisten menyatakan bahwa syi’ah tetap sesat dan dengan kejamnya sudah membunuhi jutaan ummat Islam dari dulu hingga sekarang. Padahal masalah membunuhi orang Muslim itu adalah perkara sangat besar, hingga menjadi urutan pertama diputuskannya di hari qiyamat sebelum perkara-perkara lainnya[i].
Sadarilah wahai para manusia yang mengaku Muslim bahkan tokoh namun kini bersuara membela syiah. Tidak takutkah kalian kelak di akherat akan diseret pula sebagai orang yang harus mempertanggung jawabkan sikapnya atas dukungan kepada golongan sesat syiah yang telah membunuhi Ummat Islam?
Ilustrasi: aljazerah
(haji/tede/nahimunkar.com)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Terhadap kekejaman syi’ah di Suriah, kalangan syi’ah cenderung membela diri, bahwa yang dibunuhi itu adalah rakyat yang memberontak kepada pemerintah, bahwa Bashar Assad itu bukan penganut syi’ah, dan sebagainya. Selain itu, para misionaris syi’ah juga cenderung mencari “pihak ketiga” yang bisa dijadikan musuh bersama yaitu paham wahabi. Menurut para misionaris syi’ah, paham wahabi bahkan memposisikan syi’ah dan sunni (ahlus sunnah) sama-sama sesat. Mereka juga mengatakan, sebagaimana pernah dikatakan Zen Al-Hady narasumber Radio Silaturahim (Rasil), Kerajaan Saudi yang berpaham Wahabi itu bahkan memposisikan ormas NU sebagai berpaham sesat.
Menurut misionaris syi’ah, musuh umat Islam bukanlah syi’ah karena syi’ah bagian dari Islam. Tetapi, selain paham wahabi musuh Islam adalah: mereka yang membuat karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw; penulis buku ayat-ayat setan dan yang melindungi penerbitan buku itu; mereka yang menganggap Islam sebagai agama kekerasan dan barbar; mereka yang menguasai Masjidil Aqsha, kiblat pertama kaum muslimin dan menjadikannya sebagai ibu kotanya. Begitulah propaganda misionaris syi’ah, yang antara lain bisa ditemukan pada sebuah surat terbuka berjudul “Surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi kepada ulama Wahabi” yang bisa ditemui di situs penganut syi’ah Alwi Husein (alwihusein.multiply.com) Zen Al-Hady salah satu narasumber Radio Silaturahim (Rasil) juga kerap mengutip materi propaganda khas syi’ah tadi dalam berbagai kesempatan. Tapi alhamdulillah umat Islam tidak begitu mudah percaya dengan propaganda tersebut.
Musuh-musuh Islam seperti disebutkan oleh Ayatullah Makarim Syirazi melalui surat terbukanya di atas, memang benar. Namun syi’ah pun bagian dari musuh Islam. Memerangi syi’ah bukanlah memerangi sesama muslim, karena syi’ah apapun sektenya, mereka kini sudah memerangi Islam. Bahkan syi’ah lebih dekat diposisikan dengan pihak harby. Akhir-akhir ini para misionaris syi’ah menyebarluaskan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi, boleh jadi karena mereka panik dan tidak punya cara lain untuk menutupi kekejaman rezim syi’ah di Suriah. Pada surat terbuka itu antara lain dituliskan, seolah-olah pernah ada pertemuan aneh dan langka di sebagian negara-negara Islam, yang berlangsung pada tanggal 16 Dzul Qa’dah 1427 H.
Konon, sejumlah 38 ulama dan dosen wahabi dari Universitas Ummul Qura dan Universitas Malik Su’ud, serta ulama dan dosen dari sebagian kecil wilayah Arab Saudi lainnya, menandatangani sebuah deklarasi yang berisi fatwa untuk membunuhi orang-orang syi’ah di Irak, bahkan orang-orang syi’ah di seluruh dunia. Alasannya, kata Ayatullah Makarim Syirazi, para ulama dan dosen wahabi itu menuduh bahwa orang-orang syi’ah itu rafidhi safawi yang merupakan sekutu Amerika dan kerap membunuhi orang Islam. Benarkah adanya deklarasi berisi fatwa membunuhi orang-orang syi’ah itu adalah sesuatu yang bisa dipertangung jawabkan? Yang pasti saat ini justru umat Islam-lah yang jadi korban pembantaian rezim syi’ah di Suriah. Juga, di Iran. Kalau toh deklarasi itu memang ada, tentu saja tidak lantas menganulir bahwa syi’ah itu secara akidah memang bertentangan dengan Islam.
Jangan membodohi umat Islam. Dalam salah satu alineanya, surat terbuka yang konon berasal dari Ayatullah Makarim Syirazi mengatakan: “Apakah Nabi Muhammad saw tidak pernah memberikan aturan dalam berperang bahwa ketika berperang melawan kaum musyrikin, anak-anak dan wanita jangan dibunuh. Bagaimana mungkin kelompok dari kalian melupakan aturan Islam yang sangat manusiawi ini, ketika menghadapi sekelompok dari kaum muslimin? Dengan teror, kalian membantai semuanya.” Kecaman Ayatullah Makarim Syirazi di atas, sepantasnya ditujukan kepada rezim syi’ah di Suriah, dan sama sekali tidak cocok ditujukan kepada umat Islam Indonesia, apalagi umat Islam di Suriah yang dizalimi dan dianiayaya rezim syi’ah nushairiyah di negerinya sendiri. Sesuatu yang tidak cocok itu ternyata oleh para misionaris syi’ah dijadikan materi propaganda, setidaknya untuk mengalihkan perhatian umat Islam atas kekejaman rezim syi’ah di Suriah yang berlangsung cukup lama.
Mungkin mereka bermaksud memberikan kesan bahwa orang-orang syi’ah itu juga dizalimi oleh paham wahabi sebagaimana ditulis dalam surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi di atas. Gaya seperti itu persis gaya Yahudi dengan menciptakan public opinion yang terkenal dengan sebutan holocaust (pembasmian). Melalui public opinion itu bangsa Yahudi ingin memposisikan dirinya sebagai bangsa yang teraniaya akibat praktik genosida (pemusnahan suatu bangsa) yang dilakukan Nazi Jerman dengan tokoh utamanya Hitler. Genosida terhadap bangsa Yahudi yang berlangsung antara tahun 1933-1945 itu, konon menyebabkan sejumlah 6 juta orang Yahudi menjadi korban pembunuhan rezim Hitler. Belakangan, holocaust disangkal oleh sejumlah ilmuwan seperti Roger Garaudy, Professor Robert Maurisson, Ernst Zundel, David Irving, dan sebagainya. Akibatnya, mereka harus mendekam di penjara.
Bahkan, korban kekejaman Hitler yang selama ini dipatok pada angka 6 juta, sebenarnya jauh lebih kecil, yaitu di bawah angka satu juta jiwa. Angka itu (di bawah satu juta jiwa) bagi kita umat Islam yang menjunjung tinggi syari’at Allah dan kemanusiaan, tetap masih sangat banyak. Namun yang jauh lebih banyak lagi adalah kebohongan Yahudi yang membentuk opini bahwa bangsa Yahudi korban kekejaman Hitler berjumlah 6 juta jiwa. Sehingga, dengan alasan itu mereka merasa ‘berhak’ membunuhi bangsa Palestina, dan orang-orang Islam pada umumnya di seluruh permukaan bumi. Padahal, ketika Yahudi dikejar-kejar rezim Hitler, mereka justru berlindung di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Selain holocaust, gaya berkelit ala Yahudi juga bisa ditemukan pada wacana benturan antarperadaban yang dipopulerkan oleh Samuel Phillips Huntington (kelahiran New York City, 18 April 1927) setidaknya sejak 1998, satu dekade sebelum ia akhirnya meninggal dunia pada 24 Desember 2008. Wacana itu ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia). Intinya, setelah komunisme yang menjadi musuh utama Amerika Serikat dan negara-negara Barat pada umumnya, tumbang, maka musuh berikutnya adalah peradaban Islam. Menurut Huntington, di antara berbagai peradaban besar yang tetap tegak hingga kini adalah peradaban Islam. Sebagai peradaban yang terus tegak, Islam dinilai menjadi peradaban yang paling berpotensi mengancam peradaban Barat.
Wacana benturan antarperadaban yang diusung Huntington itu bisa merupakan fakta sahih, atau analisa semata, atau justru merupakan sebuah skenario politik Barat (Amerika dan sekutunya), untuk mempunyai landasan bertindak memerangi Islam. Sebagaimana sudah diketahui umum, setiap kebijakan politik Amerika Serikat pastilah dilahirkan oleh kepentingan politik Yahudi ‘perantauan’ yang berada di Amerika Serikat dan di belahan negara Barat lainnya. Apalagi, kemudian wacana benturan antarperadaban Huntington itu tak berapa lama mendapat pembenaran melalui kasus WTC 911 yang terjadi pada 11 September 2001, yang konon dilakukan oleh organisasi teroris Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden, yang merupakan salah satu anak keluarga bin Laden yang selama ini menjadi mitra bisnis AS. Osama dan Al-Qaeda kemudian menjadi icon peradaban Islam yang menggoyang peradaban Barat. Al-Qaeda regional dan lokal pun muncul, termasuk di Indonesia.
Sejumlah tokoh atau oknum JI (Jama’ah Islamiyah) yang keberadaannya disangkal oleh Abu Bakar Ba’asyir, pun turut melaksanakan ‘serangan’ terhadap peradaban Barat, antara lain berupa Bom Bali I, Bom Bali II, Bom JW Marriott dan sebagainya. Maka, sempurnalah alasan yang diperlukan untuk menjalakankan skenario menggempur peradaban Islam melalui perang melawan terorisme. Kemudian dalam rangka memerangi peradaban Islam yang dikesankan keras ala Al-Qaeda dan JI, muncullah JIL (Jaringan Islam Liberal) dan sejumlah tokoh anak wayang seperti Ulil, Musdah, Maarif, dan sebagainya. Belakangan muncul pula program deradikalisasi yang menguntungkan Said Agil Siradj. Fenomena inilah yang dimanfaatkan oleh kalangan syi’ah untuk dijadikan momentum menjual paham sesat syi’ah laknatullah. Misionaris syi’ah seperti Zen Al-Hadi narasumber Radio Silaturahim (Rasil) dan Jalaluddin Rakhmat dari IJABI, selalu menjadikan tindakan oknum JI sebagai contoh paham wahabi yang sebaiknya dijadikan musuh bersama umat Islam dan syi’ah. Daripada berpaham wahabi yang keras mendingan syi’ah. Daripada atheis mendingan syi’ah. Pernyataan itu seolah-olah benar padahal keliru.
Selain menjadikan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi sebagai materi propaganda membela syi’ah, para misionaris paham sesat syi’ah laknatullah ini juga menjadikan sebuah foto editan untuk mengalihkan perhatian dan emosi umat Islam atas kekejaman rezim syi’ah di Suriah. Pada foto tersebut terlihat George Bush (Presiden AS sebelum Obama) sedang tempel pipi dengan Raja Arab Saudi. Selama ini George Bush dituding melakukan pembantaian terhadap satu juta muslim di Iraq, dan Raja Abdullah dari Saudi dituding menjadi sekutu George Bush dalam upaya pembunuhan itu. Peristiwa itu kalau benar terjadi, tidak akan pernah menganulir kesesatan syi’ah yang secara akidah bertentangan dengan umat Islam, tidak akan mengalihkan perhatian umat Islam terhadap kekejaman rezim syi’ah terhadap umat Islam di Suriah dan di Iran.
Cara-cara di atas, yaitu menjadikan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi dan foto editan sebagai materi kampanye syi’ah mengalihkan perhatian dan emosi umat Islam terhadap kekejaman rezim syi’ah di Suriah, adalah perbuatan dungu bin tolol. Karena kesesatan syi’ah secara akidah, tidak bisa dianulir oleh praktik politik Saudi Arabia, dan sebagainya. Saudi mau runtang-runtung dengan AS dan sebagainya, itu urusan politik mereka. Dalam urusan akidah, umat Islam tetap konsisten menyatakan bahwa syi’ah tetap sesat dan dengan kejamnya sudah membunuhi jutaan ummat Islam dari dulu hingga sekarang. Padahal masalah membunuhi orang Muslim itu adalah perkara sangat besar, hingga menjadi urutan pertama diputuskannya di hari qiyamat sebelum perkara-perkara lainnya[i].
Sadarilah wahai para manusia yang mengaku Muslim bahkan tokoh namun kini bersuara membela syiah. Tidak takutkah kalian kelak di akherat akan diseret pula sebagai orang yang harus mempertanggung jawabkan sikapnya atas dukungan kepada golongan sesat syiah yang telah membunuhi Ummat Islam?
Ilustrasi: aljazerah
(haji/tede/nahimunkar.com)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Laporan terbaru menunjukkan bahwa para pejabat AS terus mengirim tersangka teroris ke pusat penahanan Afghanistan walaupun mereka memiliki pengetahuan sebelumnya tentang adanya pelanggaran terhadap tahanan yang terjadi di sana.
Washington terus mentransfer tahanan ke fasilitas yang dijalankan oleh dinas intelijen Afghanistan meskipun pejabat dari Departemen Luar Negeri AS, Central Intelligence Agency (CIA) dan militer AS telah menerima beberapa peringatan tentang adanya penyiksaan sistematis di penjara Afghanistan, The Washington Post melaporkan hari Minggu kemarin (30/10).
Salah satu pusat penahanan terkenal, terletak di dekat markas militer AS di Kabul, dikenal sebagai Departemen 124.
Fasilitas ini dijalankan oleh badan intelijen Afghanistan dan berisi hingga 40 tersangka terorisme.
Penyiksaan banyak terjadi di pusat tahanan tersebut, seorang tahanan mengatakan kepada PBB, menambahkan bahwa saking terkenalnya tempat penahanan itu orang-orang menyebutnya sebagai "neraka."
Tahanan dilaporkan mengalami penyiksaan, dipukul dan disetrum.
Menurut pejabat Afghanistan dan Barat yang akrab dengan penjara tersebut, pasukan Operasi Khusus AS menyerahkan tahanan ke Departemen 124, yang dibangun kembali pada tahun 2010 oleh uang Amerika dan telah dikunjungi secara teratur oleh pejabat CIA.
Pada bulan Agustus, PBB secara terbuka mengungkapkan adanya "penyiksaan sistematis" terhadap para tahanan di fasilitas penjara Afghanistan.
Pemerintah AS telah menggunakan fasilitas untuk menginterogasi tersangka terortingkat tinggi Taliban dan al-Qaidah.(fq/prtv)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Gerilyawan Pakistan telah menyerang sebuah mobil tanker yang membawa bahan bakar untuk pasukan pimpinan Amerika di negara tetangga Afghanistan.
Mobil tanker minyak sedang dalam perjalanan dari Karachi ke kota Quetta Pakistan di barat daya provinsi Balochistan pada Minggu malam kemarin (30/10) ketika diserang.
Para gerilyawan Pakistan menembaki truk dan memaksa untuk berhenti, menculik pengemudi dan pembantunya dan dibawa lokasi yang tidak diketahui.
Ratusan pasokan truk NATO telah hancur di Pakistan selama beberapa tahun terakhir.
Pejuang Pakistan mengatakan serangan sebagai respon terhadap pembunuhan tidak sah pesawat tak berawak AS di zona suku Pakistan.
Serangan truk NATO telah mendorong para pejabat AS untuk mencari rute alternatif untuk mentransfer pasokan bagi pasukan asing di Afghanistan.(fq/prtv)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Afrika
,
Perang di Asia
Secara tiba-tiba Presiden Barack Obama mengumumkan berakhirnya perang di Irak. Pengumuman Obama itu, menimbulkan reaksi dikalangan internal pemerintahan Obama, termasuk Menteri Pertahanan Leon Panetta, yang menilai terlalu cepat pengumuman itu. Tetapi, diakui oleh Panetta, keputusan politik Obama itu, terkait pemotongan anggaran bagi Pentagon, yang sangat signifikan, yang bertujuan mengurangi defisit anggaran.
Pemerintahan Irak yang dipimpin Al-Maliki dibawah pengaruh Syiah, yang dipimpin Muqtada al-Sadr, dan memperlihatkan sikapnya tidak bersahabat dengan Amerika Serikat. Jadi invasi Amerika Serikat ke Irak, yang banyak menimbulkan korban, tidak menghasilkan tujuan yang ingin dicapai oleh Amerika Serikat. Justru Amerika Serikat kehilangan hegemoni diwilayah itu.
Perlahan-lahan Amerika Serikat mulai kehilangan pengaruh dan hegemoninya di dunia Arab. Pengaruh Amerika Serikat dikawasan itu terus memudar. Tidak memiliki pengaruh signifikan lagi. Ini bersamaan dengan perubahan politik yang luas di dunia Arab dan Afrika Utara. Di mana sejak berlangsungnya revolusi yang mula-mula terjadi di Tunia, Februari lalu, dan terus menjalar ke seluruh dunia Arab dan Afrika Utara.
Revolusi di dunia Arab dan Afrika Utara itu, menimbulkan dampak yang luas, terutama terjadinya sirkulasi kekuasaan. Pergantian dari rezim sebelumnya kepada pemerintahan baru, yang berbeda coraknya.
Sekarang rezim-rezim diktator yang selama ini menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan Barat, satu-satu berguguran. Digantikan rezim yang baru melalui proses pemilihan. Seperti yang terjadi di Tunisia.
Masalahnya, pemerintahan yang baru, bukan lagi rezim-rezim yang diktator, dan memerintah dengan satu tangan. Tetapi, rezim baru bercorak demokratis, dan mengakomodasi banyak kepentingan, serta tidak lagi sistem pengambilan keputusan ada di satu tangan.
Selain itu, corak pemerintahan baru di dunia Arab dan Afrika Utara itu, memiliki warna ideologi berbeda dengan rezim sebelumnya. Seperti sekarang terjadi di Tunisia dan Libya, kemungkinan Mesir. Di mana kaum Islamis memenangkan pemilihan. Mereka belum tentu dapat menjadi perpanjangan tangan bagi kepentingan Barat. Apalagi, Barat selama ini, terlalu memanjakan Israel. Menjadikan rezim baru di dunia Arab dan Afrika Utara, yang sudah berubah itu, kemungkinan sangat apriori terhadap Barat.
Meskipun, serangkaian langkah yang dijalankan oleh kebijakan Amerika Serikat dan Eropa, mencoba memanfaatkan dengan mendukung gerakan revolusi dan protes di dunia Arab dan Afrika Utara itu, sebagai sebuah siasat, agar mereka tetap mempunyai pengaruh dengan rezim baru, khususnya bercorak Islam.
Lebih-lebih rakyat di dunia Arab dan Afrika Utara, sudah sangat trauma dengan peranan Amerika Serikat dan Eropa, terus-menerus mendukung rezim-rezim diktator dalam kurun waktu sangat panjang. Zine Al Abidin ben Alli, Mubarak, Ali Abdullah Saleh, Gaddafi, Raja Abdulah (Saudi), Raja Abdullah (Jordania), mereka adalah rezim sangat repressif dan menjadi perpanjangan tangan Barat.
Sekarang, seperti langkah-langkah Turki mengusir Duta Besar Israel dari Ankara, dan memutuskan semua tingkat hubungan bilateral dengan Israel itu, menunjukkan bahwa pengaruh Israel dan Amerika sudah menurun. Langkah Turki memberikan inspirasi terhadap dunia Arab dan Afrika Utara, dan mereka ingin lebih bersikap independen.
Bagaimana ketika di Tunisia yang memenangkan pemilihan Partai Islam An-Nahdhah, di Mesir yang memenangkan Partai Keadilan dan Kebebasan, dan Libya menjadi negara Islam, seperti yang dinyatakan oleh Ketua Dewan Transisi Nasional, Mustafa Abdul Jalil? Kemudian, di Yaman, Ali Abdullah Saleh juga tersingkir, dan digantikan kekuatan Islam, seperti Partai Ishlah? Kekuatan Islam di Syria yang dipelopori Gerakan Islam (Sunni), terutama yang menjadi lawan politik rezim Alawiyyin (Shia), semakin menampakkan pengaruhnya. Ini semua akan berdampak terhadap hegemoni Amerika Serikat.
Perubahan di dunia Arab dan Afrika Utara itu, tidak hanya berdampak terhadap hilangnya hegemoni Amerika Serikat, tetapi juga "warning" bagi Israel, seperti yang dikemukakan oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta, saat bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, yang mengatakan, bahwa Israel akan semakin terisolasi, jika Israel tidak segera mengambil langkah menuju perdamaian.
"Israel tidak akan survive menghadapi gelombang perubahan di dunia Arab dan kebangkitan Islam", ujar Leon Panetta.
Aksi penyerbuan Kedutaan Israel di Cairo, Mesir, yang begitu hebat, dan kemudian membakar sebagian gedung itu, menandai atmoshfir (suhu) politik di duni Arab sedang berubah. Ini dampaknya akan semakin memojokkan posisi Amerika Serikat dalam percaturan politik di kawasan itu.
Apalagi, pemerintahan baru, yang lahir, sangat berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, yang lebih bercorak Islam, dan semakin beragam dalam sistem pengambilan keputusan nantinya.
Amerika Serikat dan sekutunya Israel, harus mempertimbangkan kembali posisinya di tengah-tengah dunia Arab yang sudah berubah, jika masih ingin mempunyai mitra dengan rakyat dan gerakan-gerakan Islam di dunia Arab dan Afrika Utara. Wallahu'alam.
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Afrika
,
Perang di Asia
Bagaimana revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara telah membawa perubahan kekuasaan yang sangat dramatis. Kurang dari setahun yang lalu, keempat orang yang paling kuat di Afrika Utara dan Timur Tengah masih dalam gelak-tawa, dan bertemu dalam konferensi.
Hari ini, satu sudah mati, satu di pengasingan, satu menghadapi pengadilan, dan satunya menunggu. Sementara itu, hanya salah satu dari mereka tetap berkuasa. Tapi, tidak bakalan lama.
Presiden Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, Presiden Libya Moammar Gadhafi, dan Presiden Mesir Hosni Mubarak, mereka begitu tersenyum di depan kamera, pada pertemuan puncak para pemimpin Afrika dan Arab yang diselenggarakan di kampung halaman Gadhafi itu, Sirte, Oktober lalu.
Setahun kemudian, berlangsung pemberontakan atau revolusi di dunia Arab, yang menyapu negara-negara mereka, dan para pemimpin yang pernah ditakuti, dan dibenci, serta tidak pernah tersentuh apapun telah disingkirkan.
Presiden Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali adalah yang pertama dari kelompok empat pemimpim yang jatuh. Kerusuhan yang berkembang, berubah menjadi revolusi memicu jatuhnya pemimpin Arab itu dari negaranya pada bulan Desember tahun lalu. Ketika penjual buah Muhammad Al Bouazizi membakar dirinya, karena pemuda yang frustrasi itu menjadi pengangguran di negara Tunisia itu.
Kemudian Al Bouazizi meninggal, tetapi tindakannya memberikan inspirasi lairnya gerakan protes massa, dan ribuan rakyat turun ke jalan untuk menuntut perubahan politik. Gerakan rakyat yang terus membesar itu, membuat Presiden Zainal al Abidin melarikan diri ke Arab Saudi, dan berakhir kekuasaannya yang sudah berlangsung selama lebih tiga puluh tahun itu.
Dampak Revolusi Arab
Ben Ali, yang telah memerintah Tunisia sejak mengambil kekuasaan dalam kudeta pada tahun 1987, melarikan diri ke Arab Saudi, tiga minggu kemudian, pada tanggal 14 Januari. Dia diadili secara in absentia karena korupsi, dan dijatuhi hukuman 35 tahun penjara.
Kemudian, pemerintahan baru di Tunisia akan mengadakan pemilihan pada akhir pekan ini, dan merupakan pemilihan pertama pasca-revolusi. Di Tunisia kekuatan utama di negeri itu, Partai An-Nahdhah, yang dipimpin Prof. Rashid Gaunushi, yang pernah hidup di pengasingan di London.
Hosni Mubarak berikutnya kehilangan cengkeraman kekuasaannya, akibat pemberontakan rakyatnya, yang berlangsung di seluruh Mesir.Ratusan ribu Mesir mendirikan kemah-kemah sebagai bentuk protes di Tahrir Square, Kairo.
Ratusan orang tewas dan terluka, saat para demonstran menyerukan pengunduran dirin Mubarak - presiden Mesir yang berkuasa sejak 1981 - gerakan itu menuntut Mubarak mengundurkan diri dan meninggalkan negara itu. Gerakan protes itu bentrok dengan pasukan pro-pemerintah yang menimbulkan banyak korban.
Mubarak awalnya menolak menyerahkan kekuasaannya, tetapi Mubarak akhirnya mundur pada tanggal 11 Februari. Sekarang Mubarak sedang diadili karena korupsi dan membunuh lebih dari 800 demonstran.
Korban terbaru dari revolusi Arab, adalah Presiden Libya Kolonel Moammar Gadhafi, seorang diktator, yang berkuasa lebih empat puluh tahun, dan kekuasaannya berakhir dengan tragis, ketika Gaddafi tewas di kota kelahirannya, Sirte, Kamis, 20 Oktober, kemarin.
Kematian Gaddafi
Gadhafi telah mengungsi ke kampung halamannya, di Sirte, tak lama setelah pejuang oposisi mengambil alih ibukota Tripoli dua bulan lalu, dan berlangsung pertempuran selama berbulan-bulan untuk menguasai kota-kota di seluruh negeri. Lebih delapan bulan pertempuran berkecamuk, antara kekuatan oposisi melawan pasukan yang setia kepada Gaddafi.
Hanya satu dari empat pemimpin Arab yang masih bertahan, yaitu Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, di mana dia masih bertanggung jawab - atas kerusuhan di negaranya, di mana protes damai di Sanaa, Aden dan Taiz telah menemui perlawanan sengit dari unit tentara masih setia Saleh, akibatnya meninggalkan ratusan orang yang mati.
Saleh, yang telah berkuasa sejak 1978, selamat dari upaya pembunuhan pada bulan Juni lalu, ketika istana presiden dibom, menewaskan lima orang dan melukai Saleh dan beberapa menterinya.
Ali Abdullah Saleh menghabiskan beberapa bulan di Arab Saudi, guna mendapatkan perawatan medis, akibat luka bakar dan paru-parunya mengalami luka parah, dan sekarang kembali ke Sanaa, bulan lalu.
Abdullah Saleh telah berulang kali berjanji untuk mundur sebelum pemilu presiden berikutnya, tetapi kelompok oposisi di Yaman, mengatakan ia telah melanggar janji-janji berkali-kali seperti sebelumnya.
Namun, kematian Gadhafi, seperti kartu domino yang jatuh, dan meningkatkan harapan para aktivis gerakan oposisi bahwa mereka juga dapat menggulingkan penguasa lama mereka.
Berapa lama lagi, Ali Abdullah Saleh, Bashar al-Assad, Raja Arab Saudi Abdullah, dan Raja Jordania Abdullah, yang sekarang masih bercokol, dan memegang kekuasaannya?
Mungkin tidak lama lagi. Jika mereka tidak pergi, maka rakyatnya akan memaksa mereka pergi selama-lamanya. Wallahu'alam.
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
,
Perang di Indonesia
Indonesia tidak akan menoleransi tindakan negara lain yang mengancam kedaulatan, termasuk menggeser tapal batas. ”Tidak ada kompromi soal kedaulatan,” kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, Selasa (11/10/2011).
Hubungan Indonesia kembali memanas. Setelah kian kali, dua Negara serumpun-seakidah ini kembali diributkan persoalan nasionalisme yang sama sekali tidak diajarkan ulama-ulama Melayu tempo dulu.
Kasusnya sederhana, namun luar biasa bagi kaum nasionalis, yakni permasalahan tapal batas Camar Bulan di Sambas yang diduga telah dicaplok Malaysia.
Kita harus membuka mata bahwa konflik antara Malaysia dan Indonesia ini tidak terjadi dengan sendirinya. Ada unsur-unsur pemicu layaknya api yang menimbulkan asap besar. Pertanyaannya siapakah pemantik api itu? Umat Muslim? Bukan, karena kita hanya korban.
Pakar Melayu Prof. Dr. Dato’ Nik Anuar Nik Mahmud dari Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) mengamini bahwa ada intervensi pihak luar di balik perseteruan kedua Negara serumpun muslim ini.
Dalam memoar buku Thomas Raffles disebutkan, Barat harus memastikan bahwa alam Melayu ini lemah. Untuk melemahkan, Raffles mengusulkan dua buah strategi.
Pertama, imigran-imigran asing masuk ke Melayu supaya kawasan ini tidak menjadi kawasan Melayu, melainkan majemuk (dibawa orang-orang China dan India).
Kedua, pastikan bahwa raja-raja Melayu yakni Semenanjung, Sumatera, Jawa dan sebagainya, tidak mengambil para ulama Arab menjadi penasehat mereka. Jadi, tujuan mereka memang untuk memisahkan Arab dengan Melayu.
Bersatunya antara Malaysia dan Indonesia membentuk Imperium Islam Melayu inilah yang sangat ditakuti oleh Zionisme.
Mereka sadar Melayu adalah potensi kuat dalam membangkitkan Islam dari tenggara Asia, maka itu jalur ini harus dihabisi, apapun caranya.
Dan pengalaman bangsa Indonesia yang kerap mudah diadu domba adalah kunci yang selalu mereka pegang saat zaman devide et impera.
Yang juga kita harus faham adalah Thomas Stamford Raffles sendiri seorang Freemason. Menurut Th Stevens dalam bukunya Tarekat Mason Bebas, Raffles pada tahun 1813 dilantik sebagai mason bebas di bantara “Virtutis et Artis Amici”. “Virtus” merupakan suatu bantara sementara di perkebunan Pondok Gede di Bogor.
Perkebunan itu dimiliki Wakil Suhu Agung Nicolaas Engelhard. Di situ Raffles dinaikkan pangkat menjadi ahli (gezel), dan hanya sebulan kemudian dinaikkan menjadi meester (suhu) di loge “De Vriendschap” di Surabaya.
Raffles pula yang mendirikan Singapura modern yang kini menjadi basis Israel di Asia Tenggara. Agen-agen zionis melalui Singapura adalah penghasut sebenarnya dalam mengeruhkan hubungan sesama muslim Melayu.
Kebanyakan koruptor Indonesia pun bermukim di Singapura setelah merampok uang hasil keringat anak-anak Indonesia dan rakyat jelata.
Singapura adalah sekutu zionis. Mereka tidak mau menandatangani perjanjian extradisi dengan Indonesia semata-mata melindungi koruptor ini karena mereka bawa banyak uang ke Singapura.
Untuk mengalihkan isu ini dari masyarakat Indonesia, mereka akan coba cari isu supaya masyarakat Indonesia lebih fokus pada isu yang mereka cipta.
Maka diwujudkanlah isu sekarang, konfrontasi Malaysia-Indonesia. Melalui media sekular di Negara ini, mereka terus berupaya agar rumpun Melayu bangga akan identitas negara-nya masing-masing.
Adanya inflitrasi Zionis di Malaysia juga bukan barang baru. Tahun lalu mantan wakil perdana menteri Malaysia yang juga tokoh oposisi, Anwar Ibrahim, pernah membeberkan fakta adanya keberadaan intelijen Zionis di markas kepolisian federal Malaysia.
Kala itu bersama dengan Kelompok Muslim, mereka menyatakan memiliki dokumen yang memperlihatkan kemungkinan adanya intelijen Zionis kedalam strategi informasi negara lewat perusahaan kontraktor bernama "Osiassov", yang melaksanakan proyek pengembangan sistem komunikasi dan teknologi di markas besar polisi federal Malaysia.
Anwar Ibrahim menjelaskan bahwa perusahaan "Osiassov" terdaftar di Singapura namun berkantor pusat di negara penjajah Zionis Tel Aviv.
Menurut Anwar, kehadiran dua mantan perwira tentara Zionis di perusahaan yang bersangkutan, adalah sepengetahuan petugas polisi senior Malaysia dan Menteri Dalam Negeri Malaysia sejak jaman Syed Ahmad Albar.
Yakinlah, jika umat muslim Melayu tidak kembali ke ajaran Islam sejati dimana tak ada ruang pada nasionalisme yang memberhalakan bangsa, benih permusuhan itu akan selalu muncul, walau kedua Negara itu makmur dan sama-sama beragama muslim.
Maka itu, bersatulah bangsa Melayu. Bersatulah diatas Panji Islam yang akan membuka jalan tegaknya dienullah ini di tanah perjuangan kita, tanah Melayu Darussalam. (pz)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Tiga minggu setelah ditunjuk oleh Presiden Obama pada Januari 2009 sebagai Direktur Central Intelligence Agency (CIA) yang ke 19, dan hari pertamanya sebagai Direktur CIA, Leon Panetta, menyusun laporan yang tidak disukai oleh rezim Zionins-Israel, dan lobbi Yahudi di Amerika Serikat, AIPAC.
Laporan CIA meramalkan kehancuran Israel dalam 20 tahun mendatang, jika kecenderungan politik sekarang di wilayah itu terus berlanjut. Para analis intelijen CIA menyimpulkan bahwa tidak mungkin para pemimpin Israel memberikan konsesi minimal dalam rangka mencapai penyelesaian dengan tetangga mereka, yang semakin kecewa melihat kondisi mereka. Rakyat Arab dan Palestina sudah tidak lagi sabar. Mereka ingin segera mendapatkan keadilan. Mereka ingin mendapatkan negara yang berdaulat, dan menjadikan Yerusalem sebagai ibukotanya.
Menurut laporan CIA yang mencatat bahwa para pejabat Israel merasa berani merampas (menganeksasi) tanah Palestina, karena adanya dukungan terhadap Israel oleh pemimpin Mesir, Tunisia, Arab Saudi, Bahrain, Yordania dan tiga pemimpin Arab lainnya.
Israel juga mendapatkan dukungan dua kekuatan di Amerika Serikat yaitu Kongres dan AIPAC. Dua kekuatan ini yang selalu merahasiakan laporan CIA tahun 2009, dan laporan yang sangat rahasia dan terbatass itu, hanya dibuat tujuh eksemplar, yang akhirnya diakui, di mana satu "copy" diberikan kepada AIPAC dan yang lainnya kepada staf pendukung Israel di Komite Kongres.
Selama pertemuan pekan lalu dengan para pejabat Israel, kedua belah pihak tahu bahwa hasil studi CIA di tahun 2009, dan bahkan hasil penelitian CIA akan tetap menjadi pegangan dan rujukan Panetta, yang sekarang menjadi menteri pertahanan Amerika Serikat.
Presiden Obama mengirim Leon Panetta melaukan diskusi dengan Benyamin Netanyahu, dan menyampaikan kekecewaan Gedung Putih terhadap penghinaan Netanyahu yang berulang-ulang terhadap Presiden Obama, selama 18 bulan terakhir.
Bahkan kalangan Yahudi dan Lobbi Yahudi di Amerika mengancam menghentikan bantuan kampanyenya bagi Presiden Obama yang akan mengikuti pemelihihan tahunuk 2012. Kaum pendukung Lobbi Yahudi di Amerika telah mengancam Obama, agar tidak dipilh kembali.
Saat berlangsung konferensi pers, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta dengan Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak, beberapa pandangannya secara umum, bahwa "Saat ini telah berlangsung perubahan yang dramatis di Timur Tengah, dan begitu banyak perubahan, dan tu bukan situasi yang baik bagi Israel untuk menjadi semakin terisolasi. Dan kondisi seperti itu sekarang ini terjadi," tata Panetta.
"Ada banyak pertanyaan dalam pikiran saya bahwa mereka (Israel) berusaha mempertahankan keunggulan militer. Tetapi anda harus bertanya, apakah itu cukup dengan mempertahankan keunggulan militer semata. Jika ada mengisolasi diri dalam arena diplomatik? Pada waktu yang dramatis di Timur Tengah, seperti sekarang ini, dan ketika begitu banyak perubahan, itu bukan situasi yang baik bagi Israel untuk menjadi semakin terisolasi, "katanya.
Leon Panetta dilaporkan memberikan gambaran yang sangat jelas kepada para pemimpin Israel, di mana negara-negara Timur Tengah, yang mengalami revolusi i Arab dan Kebangkitan Islam, memastikan Israel dengan cepat kehabisan peluang menciptakan kondisi yang kondusif bagi masa depannya. Satunya pilihan adalah membuat perdamaian dengan Palestina dan tetangganya atau Israel menjadi binasa", tegas Panetta.
Panetta mengatakan kepada Israel bahwa waktu hampir habis bagi solusi dua negara, yang berarti negara Zionis Israel akan mirip dengan rezim apartheid di Afrika Selatan, setelah Presiden Ronald Reagan, dan di masa depan Amerika akan mengakhairi dukungan terhadap Israel. Tidak mungkin selama-lamanya Amerika Serikat mendukung rezim Zionis-Israel, yang mirip seperti rezim Apartheid di Afrika Selatan, dan akan menghadapi tantangan masyarakat internsional.
Ameika Serikat tidak mungkin melanjutkan bantaunnya kepada Israel yang setiap tahunnya mencapai i $ 6 miliar dollar. Dukunga finansiil Amerika Serikat itu, yang jumlahnya $ 6 miliar dollar, setiap tahunnya, pasti akan dipertanyakan oleh publik Amerika, ujar Panetta.
Diskusi antara Leon Panetta dengan Ehud Barak, mengingatkan selama diskusi panas antara dua menteri pertahanan, dan pernyataan seorang jenderal Mesir di 1973, seperti yang dilaporkan oleh Presiden Nixon.
Nixon, mengatakan bahwa seorang pejabat Israel meminta seorang jenderal Mesir, yang masih berada di rumah sakit, "Kami telah mengalahkan bangsaArab tiga kali dalam perang (1948, 1967 & 1973). Mengapa anda terus menolak kita? Jenderal Mesir itu menjawab, " Anda mungkin telah mengalahkan kami tiga kali?, dan Anda mungkin mengalahkan kita 11 kali. Tapi, perang yang ke 12 kali, kita akan menang dan Palestina akan dibebaskan. "
Tanda-tanda semakin nampak. Kelompok Hamas yang dinajiskan oleh pemerintahan Netanyahu, terpaksa sekarang harus berunding, dan Israel bersedia membebaskan 1027 tahanan Palestina, dan ini merupakan awal kemenangan. Israel tidak banyak lagi pilihan yang dimilikinya. (mash)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Sebelumnya tidak pernah terbayangkan bahwa Israel mau mengakui Hamas dan melakukan negosiasi. Di mata pemerintahan Partai Likud, yang sangat konservatif, dipimpin Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, gerakan Hamas, seperti sesuatu yang dinajiskan.
Semua partai politik di Israel, baik yang kiri dan kanan serta yang konservatif, persepsi mereka terhadap Hamas, adalah kelompok teroris yang mengancam masa depan Israel, dan haram melakukan komunikasi dan negosiasi. Israel dengan segala kekuatan yang dimilikinya berusaha melikwidir (menghapus) kekuatan Hamas di Gaza.
Usaha-usaha yang dijalankan Israel, memusnahkan dan membunuh semua tokoh-tokoh Hamas, yang menjadi inspirasi dan penggerak gerakan itu. Israel membunuh tokoh dan pendiri Hamas, Sheikh Ahmad Yasin, saat baru meninggalkan masjid, usai shalat Shubuh dengan menggunakan rudal yang ditembakkan dari halikopter.
Sheikh Ahmad Yasin yang sudah lumpuh, dan tidak dapat menggerakkan tubuhnya, kecuali kepalanya, sangat menakutkan bagi Israel. Tokoh dan ulama Palestina ini, sejak mudanya menjadi pendidik, penggerak, dan pemberi inspirasi bagi perjuangan rakyat Palestina. Sheikh Ahmad Yasin sangat kharismatis, dan berpengaruh terhadap rakyat Palestina. Dengan membunuh Sheik Ahmad Yasin, harapan Israel, perjuangan rakyat Palestina kehilangan tokoh, dan akan berhenti perjuangan mereka.
Tetapi, pandangan dan kebijakan para pemimpin Israel, semua tidak terbukti, dan sesudah tewasnya Sheikh Ahmad Yasin, perjuangan melawan rezim Zionis-Israel, tidak berhenti. Hamas tetap hidup. Hamas terus berjuang dengan kekuatan yang dimilikinya menghadapi rezim Zionis-Israel.
Gerakan Hamas, yang mula-mula hanya bergerak dibidang pendidikan dan sosial di tanah Palestina terus berkembang dengan seiring berjalannya waktu. Gerakan itu berhasil membangun basis kekuatan yang sangat kokoh di kalangan rakyat, terutama di Gaza, sampai sekarang.
Gerakan Hamas yang berhasil membangun basis dikalangan rakyat, melalui pendidikan dan kegiatan sosial, kemudian mulai masuk perjuangan sipil, dan munculnya pemberontakan, yang sangat spektakuler berbentuk "Intifadah".
Melawan pasukan Israel dengan batu, secara massif. Ini merupakan bentuk perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel, pertama kali yang menggunakan gerakan sipil. Tetapi, tujuannya hanya membangun kembali mental rakyat Palestina, khususnya menghadapi supremasi Israel, yang didukung oleh negara-negara Barat.
Dampaknya sangat luar biasa dengan gerakan "Intifadah", bangkitnya semangat rakyat Palestina secara kolektif, dan sekaligus membangun kembali semangat dunia Arab yang sudah mati, ketika menghadapi rezim Zionis-Israel.
Langkah berikutnya yang dilakukan Gerakan Hamas, membangun kekuatan militer, secara diam-diam. Hamas memulai gerakan militernya, dan membentuk Brigade Izzuddin al-Qassam, di tahun l990 an.
Izzudin al-Qassam, merupakan tokoh dan pejuang, yang mula-mula menghadapi rezim Zionis-Israel, tak lama sesudah Israel melakukan aneksasi (mencaplok) wilayah-wilayah Palestina di tahun 1948.
Hamas melakukan latihan militer yang sangat keras terhadap anggota-anggota Brigade Izzudin al-Qassam, sebagai unit tempur yang sangat handal, memiliki kemampuan militer yang sangat tinggi, yang bisa disejajarkan dengan militer Amerika Serikat, seperti Unit "Special Force" atau "Navy Seal". Karena latihan-latihan militer mereka di gurun pasir, yang terus-menerus, dan menggunakan berbagai jenis senjata.
Ini terbukti dengan kemenangan Hamas, ketika usai pemilu tahun 2006 di Palestina, kemudian tahun 20007, hanya dalam waktu tiga jam, Hamas dapat mengambil alih seluruh Gaza dari tangan Gerakan al-Fatah, yang dipimpin Mahmud Abbas. Hamas mengambil alih kantor pemerintahan Otoritas Palestina, serta mendapatkan senjata dari gudang-gudang yang merupakan milik gerakan al-Fatah.
Kemudian, kekuatan militer Hamas mampu menghadapi invasi milliter Israel di tahun 2008, saat Israel dipimpin Perdana Ehud Olmert. Hamas mampu bertahan menghadapi invasi Israel, yang berlangsung selama sebulan. Dan hanya kehilangan sedikit pasukannya, dan Hamas berhasil menghancurkan berbagai jenis tank dan pasukan Israel, yang masuk kota Gaza. Sampai, Perdana Menteri Ehud Olmert, secara sepihak mengumumkan gencatan senjata, tengah malam, di bulan Januari 2009.
Gerakan Hamas benar-benar teruji kemampuan, dibidang politik, ekonomi dan militer, menghadapi rezim Zionis-Israel, yang didukung Amerika Serikat.
Sejak kemenangan dalam pemilu tahun 2006, Gaza diblokade oleh Israel, dan Hamas tak pernah menyerah dan mau mengakui Israel. Hamas dan rakyat Palestina di Gaza, tetap bisa survive, di tengah-tengah ancaman dan blokade yang dilakukan Israel.
Sekarang rezim Zionis-Israel yang dipimpin Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, yang sangat konservatif, dan bertindak keras terhadap Hamas, dan selalu mengatakan Hamas sebagai kelompok teroris, dan tidak mau melakukan negosiasai apapun dengan kelompok Hamas, sekarang harus menerima eksistensi Hamas, dan membebaskan 1027 tahanan Palestina, termasuk tokoh-tokoh yang dipenjara oleh Israel, ditukar dengan Kopral Gilad Shalit.
Bagaimana kecanggihan Hamas, sampai Mossad, tidak dapat menemukan tempat persembunyian Kopral Gilad Shalit yang diculik oleh Hamas, meskipun rezim Zionis-Israel sudah menggunakan intelijen Mesir, Arab Saudi, dan Otoritas Palestina, dan melakukan invasi militer ke Gaza, dan menduduki Gaza, tetapi tidak berhasil menemukan Gilad Shalit.
Hamas tetap kokoh menghadapi berbagai tekanan dunia internasional. Tidak pernah menyerah. Sikapnya tetap teguh dan konsisten memperjuangkan keyakinannya, menegakkan negara Palestina, yang berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Seperti yang dikatakan Ismail Haniyah, bahwa akan tegak negara Islam di tanah Palestina, dan membebaskan selulruh tanah Palestina yang diduduki oleh rezim Zionis-Israel.
Para pemimpin Hamas adalah para pejuang Islam yang sejati, tidak pernah meminta pertolongan kepada siapapun, kecuali kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orag mukmin, karena itu mereka mendapatkan kemenangan, dan memiliki izzah yang tinggi didepan para musuhnya.
Kemenangan telah di depan mata bagi Hamas, dan seluruh kekuatan di Palestina, yang berjuang ingin membangun negara yang benar-benar berdaulat, lepas dari cengkeraman rezim Zionis-Israel. Wallau'alam.
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Militer Filipina menuduh pejuang Islam Rabu kemarin (19/10) menewaskan 19 tentara mereka di sebuah pulau terpencil di selatan dan insiden ini menjadi salah satu aksi kekerasan terburuk antara kedua belah pihak dalam beberapa tahun.
Pertempuran yang berlanjut menjadi semakin rumit dalam upaya untuk mengakhiri salah satu pemberontakan terlama di Asia, dengan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) dan militer saling tuduh telah melanggar gencatan senjata dalam upaya untuk mempromosikan pembicaraan damai.
Pihak militer mengatakan tentara mereka berburu anggota kelompok Al-Qaidah Abu Sayyaf di hutan pulau Basilan ketika gerilyawan MILF menyergap mereka, memicu bentrokan selama sembilan jam. Sembilan belas tentara Filipin tewas, 13 terluka dan tiga masih hilang, komandan militer Letnan Jenderal Raymundo Ferrer menyatakan kepada wartawan.
"Kami tidak hanya mendapatkan pelanggaran gencatan senjata melawan mereka, tetapi juga adanya pembunuhan yang dilakukan anggota mereka terhadap tentara kami," kata Ferrer.
Militer awalnya melaporkan bahwa 13 tentara telah tewas dalam pertempuran, dan enam tentara disandera. Tetapi tubuh dari enam tentara ditemukan pada Rabu kemarin, memicu tuduhan dari militer bahwa mereka telah dibunuh sewaktu di penahanan.
"Mereka pasti dibunuh ... mereka masih hidup tadi malam," kata juru bicara militer Antonio Parlade di Manila.(fq/pkstntoday)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Prancis mulai menarik keluar 200 tentaranya dari Afghanistan pada hari Rabu kemarin (19/10), Menteri Pertahanan Gerard Longuet mengatakan.
Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dialporkan ingin menarik sekitar 1.000 tentara pada akhir 2012 dengan penarikan menyeluruh dari 4.500 tentara pada akhir 2014 - batas waktu yang ditetapkan untuk menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada pasukan Afghanistan.
"Kami sedang melakukan penarikan proporsional," kata Longuet di radio Inter Prancis. "Zona di mana kita bertanggung jawab atasnya akan diserahkan kepada tentara Afghanistan."
Lebih dari 2.500 tentara asing telah tewas di Afghanistan sejak perang dimulai hampir 10 tahun yang lalu. Tujuh puluh lima tentara Prancis telah tewas sejak Prancis bergabung dengan pasukan AS dan NATO di Afghanistan yang memimpin operasi pada tahun 2001.(fq/reu)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Sebelum Ji Chang menjadi Raja Wen di negara Zhou, ia seorang bangsawan. Suatu hari ia pergi ke pedesaan ditemani oleh pejabat yang bekerja untuknya dan melihat tulang-tulang orang mati di tanah. Dia segera memerintahkan tulang-tulang dikubur dengan baik.
Seorang petugas mengatakan, "Tidak ada yang tahu tulang-tulang ini milik siapa. Mengapa repot? " Raja Wen menjawab," Kepala negara adalah juga pemilik negara. Tulang-tulang ini muncul di tanah di bawah kekuasaan saya. Oleh karena itu, saya bertanggung jawab menyediakan penguburan yang layak. Ini akan menjadi tidak manusiawi jika tidak melakukannya. "
Warga lainnya, yang mendengar apa yang telah dilakukan Raja Wen, mengatakan, "Jika dia bersedia merawat orang mati, ia pasti peduli orang hidup.".
Kisah perbuatan Raja Wen menyebar ke banyak bangsawan yang memutuskan untuk menyatakan kesetiaan kepadanya. Jumlah bangsawan yang bergabung dengan Raja Wen melebihi 40 dan wilayah Raja Wen meliputi dua pertiga wilayah pada waktu itu. Cerita ini menunjukkan bahwa seorang penguasa yang sukses harus menjadi orang yang murah hati dan pemerintahannya harus menjunjung standar etika yang tinggi. Oleh karena itu, sejarawan menganggap Kaisar Wen sebagai contoh bagi orang lain dalam kekuasaan.
Tiongkok memiliki sejarah panjang dan beraneka ragam. Sepanjang sejarah Tiongkok bahwa keyakinan yang paling penting untuk penguasa adalah mencintai dan merawat rakyatnya. Dia harus melaksanakan kebajikan dan mendapatkan dukungan dari rakyatnya. Namun, ini hanya dapat dicapai jika penguasa mempunyai karakter baik hati. Dengan demikian, karakter pribadi penguasa adalah sangat penting. Sebagai penguasa sebuah negara, jika dia tidak bisa menetapkan kebijakan baik hati untuk membantu orang, ia tidak akan dianggap sukses atau penguasa yang bijaksana. Karena alasan ini semua pemimpin sepanjang sejarah Tiongkok dibedakan kultivasi karakter mereka dan implementasi kebijakan baik hati.
Saat ini, penguasa di Tiongkok benar-benar berbeda dari semua penguasa dalam sejarah. Partai Komunis China (PKC) tidak menerima keberadaan Tuhan. Alih-alih melaksanakan kebijakan kebajikan, PKC mendorong pertempuran melawan alam, melawan lingkungan, dan terhadap orang yang tidak setuju dengan kebijakannya. Selama 60 tahun terakhir, kebijakan seperti kebencian telah menyebabkan sedikitnya 80 juta kematian rakyat China secara tak wajar (dibunuh). Selama lebih dari satu dekade PKC telah menganiaya rakyatnya yang berlatih Falun Gong untuk menjadi manusia yang Sejati-Baik-Sabar. Hal ini diyakini bahwa hari-hari PKC tinggal beberapa saat karena kejahatan keji tersebut. (Erabaru/art)
Sumber: http://erabaru.net
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Negara China mempunyai sejarah yang panjang dalam hal peperangan antar kerajaannya. Sehingga banyak orang pintar yang menjadi penasehat perang atau para jendral harus mengadu strategi untuk memenangkan sebuah peperangan. Di antaranya yang paling terkenal adalah Sun Tzu, Sun Bing, Qin Shi Huang, Liu Bang, Cao-Cao, Zhuge Liang , dll. Nah tulisan kali ini kita hanya akan membahas 3 strategi perang China jaman dulu yang dikembangkan dan dipraktekkan di jaman modern ini terutama di Indonesia. Kenapa cuma tiga ? Karena ada ribuan atau mungkin ratusan ribu strategi perang yang mereka terapkan jaman dulu yang tidak mungkin kita bahas satu persatu. Nah apa-apa saja strategi perangnya itu ? Mari kita bahas satu persatu.
1. Untuk menaklukan dunia saya tidak perlu memiliki seribu pasukan tetapi saya hanya butuh satu anak perempuan yang paling cantik di negeri ini. (Sun Tzu)
Maksud dari tulisan ini adalah :
Pada jaman dahulu di negeri China seorang Kaisar dapat memiliki selir hingga mencapai 200 orang. Bagi yang memiliki anak perempuan yang cantik dapat di ajukan ke Kaisar untuk dipersunting sebagai selir. Nah kalau kita memiliki seorang anak perempuan yang cantik bahkan paling cantik di negeri itu maka otomatis pasti akan dijadikan selir oleh Kaisar. Dan dengan menjadi yang tercantik dari semua selir yang di miliki Kaisar maka tentunya akan menjadi selir kesayangan Kaisar yang mana akan dipenuhi semua permintaannya oleh Kaisar. Jadi dengan begitu kita bisa memerintah kerajaan melalui sang anak.
Jadi inti dari seni perang ini adalah mempergunakan daya tarik wanita atau di negeri China dikenal dengan strategi " JEBAKAN WANITA CANTIK "
Bagaimana hal ini dipraktekan di jaman modern ?
Teori ini dikembangkan dengan baik di bidang pemasaran dan politik. Kita bisa lihat bagaimana tenaga-tenaga wanita dijadikan Sales Promotion Girls untuk menarik pembeli atau pengunjung suatu event dan bagaimana tenaga wanita juga dijadikan Lady Escourt yang kerjanya melakukan lobby kepada klien guna memenangkan sebuah tender. Selain dari pada itu kita juga mendengar wanita dimanfaatkan untuk menghancurkan karir seseorang dengan memakai jasa mereka sebagai pembuat scandal kepada lawan bisnis atau politik.
2. Setelah sampai didaerah musuh bakar kapal dan buang persediaan makan. (Xiang Yu)
Maksud dari teori ini adalah :
Ketika seorang Jendral kejam yang bernama Xiang Yu ingin memaksa anak buahnya berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan maka cara yang ditempuhnya adalah dengan mengancam kelangsungan hidup dari para tentaranya dengan membakar kapal untuk mereka pulang serta membuang semua perbekalan untuk makan mereka. Sehingga kalau mereka tetap ingin hidup jalan satu-satunya adalah memenangkan perang. Karena kalau mereka dapat memenangkan peperangan berarti mereka dapat merampas semua kebutuhan yang mereka butuhkan dari pihak musuh yang kalah.
Di jaman modern strategi ini dipraktekan di bidang perdagangan atau lebih tepatnya di bidang Ketenaga kerjaan.
Cara yang dilakukan pengusaha atau perusahaan adalah dengan memberikan gaji yang kecil dan pas-pasan kepada karyawan agar mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka dan baru bisa mencukupi kebutuhan mereka kalau mereka mencapai target yang ditentukan perusahaan dengan imbalan bonus dari pencapaian target. Jadi dengan gaji yang pas-pasan atau malah kurang, maka tanpa disuruhpun para pegawai mereka akan bekerja mati-matian untuk mencapai target yang ditentukan agar menerima bonus yang dijanjikan perusahaan untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
3. Tempat yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya. ( Sam Kok )
Apa maksud dari tulisan diatas ?
Maksudnya adalah ketika melakukan pencurian di istana kaisar maka tempat yang paling aman bersembunyi adalah di istana itu sendiri. Kenapa ??? Karena kebiasaan orang mencuri di istana kaisar pasti sudah lari terbirit-birit dengan memakai jurus langkah sejuta. Karena kalau ketahuan mencuri akan langsung di hukum pancung atau disiksa sampai mati . Maka dengan tetap di istana bahkan berteriak maling dan ikut serta dalam pencarian pencuri itu maka pasti orang tidak akan menyangka bahwa dialah yang melakukan pencurian karena semua orang tidak akan mempuyai nyali seperti itu.
Dijaman sekarang ini strategi perang ini malah lebih sering kita temukan di Indonesia. Para pejabat atau pemilik kekuasaan yang melakukan korupsi akan lebih dulu teriak maling kepada orang lain dan bertindak seakan-akan ingin memberantas korupsi agar orang menyangka dirinya bersih dari korupsi. Orang sudah pasti akan berpaling kepada orang yang diteriakan dari pada kepada dirinya yang pura-pura bersih bahkan orang akan mendukungnya atas usahanya memberantas korupsi padahal dialah biang dari korupsi itu.
Dari tulisan diatas kita dapat melihat bahwa strategi perang China jaman dahulu tersebut telah dimodif sedemikian rupa agar dapat dipergunakan di abad modern ini . Tetapi yang sangat disayangkan mereka menggunakannya untuk kepentingan dan keperluan yang negatif.
Sumber: http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=23203




+(1).jpg)






















